|
|
|||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||
|
Buletin Islami KINETIK Pusat Kegiatan Alkamil FMIPA Unri
|
Seminar Nasional
Pernah
Rasulullah SAW bertanya, ”Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk
menikah?…” Kenapa para lelaki merasa berat untuk meminang
seorang wanita secara baik-baik dengan mendatangi keluarganya? Apa yang
menyebabkan sebagian dari pria merasa terhalang langkahnya untuk
mempersunting seorang wanita yang baik-baik sebagai isterinya? Sementara
keinginan ke arah sana seringkali sudah terlontarkan. Sementara
kekhawatiran akan jatuh kepada maksiat semakin menguat. Sementara ketika
“maksiat-maksiat kecil” (atau yang kita anggap kecil) sempat
berlangsung, ada kecemasan kalau-kalau keterlambatan menikah membuat
kita benar-benar jatuh kepada maksiat yang besar. Sungguh,
hampir saja kaki kita tergelincir kepada maksiat-maksiat besar kalau
Allah tidak menyelamatkan kita. Dan kita bisa benar-benar memasukinya
kalau kita tidak segera meniatkan untuk menjaga kesucian diri kita
dengan menikah. Awalnya menumbuhkan niat yang sungguh-sungguh untuk
suatu saat menghalalkan poandangan mata dengan akad nikah yang sah.
Mudah-mudahan Allah menolong kita dan tidak mematikan kita dalam
kesendirian. Rasulullah
Saw pernah berpesan, “Orang meninggal dunia di antara kalian yang
berada di dalam kehinaan adalah bujangan. “ Pada kesempatan
yang lain, beliaupun pernah bilang, “Sebahagian besar penghuni neraka
adalah orang yang bujangan.” Seorang
laki-laki yang membujang harus menanggung beban syahwat yang sangat
berat. Apalagi pada masa seperti sekarang ini ketika hampir segala hal
memanfaatkan gejolak syahwat untuk mencapai keinginan. Berbagai
perusahaan seringkali memanfaatkan gambar wanita untuk menarik pembeli.
Masih ingat ‘kan? Ketika sebuah perusahn rokok menjadikan para gadis
yang berpenampilan seronok untuk mempromosikan produknya di kampus kita
dengan merelakan diri mengambilkan sebatang rokok sekaligus menyalakan
apinya ke laki-laki yang sedang lengah ataupun sengaja ‘melengahkan’
diri. Tak sekedar itu, di TV pun kita sering disuguhkan dengan acara- acara
yang mengekspose rangsangan pornografis demi meningkatkan oplah. Dan
tragisnya, acara-acara keislamanpun tanpa sadar tergelincir untuk ikut
memanfaatkan hal-hal semacam ini lantaran ikut-ikutan dengan prosedur
protokoler di TV. Maka
tak semua dapat menahan pikiran dan angan-angannya. Dorongan-dorongan
alamiah untuk mempunyai teman hidup yang khusus ini telah menyita
konsentrasi. Daya serap terhadap ilmu jadi tidak tajam. Apalagi untuk
sholat, sulit merasakan kekhusukan. Ketika mengucapkan “Iyyaaka na’
budu wa iyyaa ka nas ta’iin,” yang muncul bukanlah kesadaran
mengenai kebesaran Allah yang patut disembah. Melainkan
bayangan-bayangan pada suatu saat telah menikah. Malah, sebahagian
membayangkan pertemuan-pertemuan. Shalat
orang yang belum menikah memang sulit mencapai kekhusu’an, apalagi
memberi bekas dalam akhlaq sehari-hari. Rasulullah sendiri pernah
mengatakan, “Shalat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang menikah
lebih baik dari shalat malam dan berpuasa di siang harinya yang
dilakukan oleh seorang lelaki bujangan.” Sehingga
menunda-nunda pernikahan tanpa alasan yang kuat rasanya hanya akan
membuat diri kita disibukkan oleh maksiat yang terus menerus. Sesekali
dapat melepaskan diri dari maksiat memandang non mahrom, tetapi
kemudian masuk ke maksiat lainnya. Pikiran disibukkan oleh hal-hal yang
kurang baik, sedang mulut mengucapkan kalimat-kalimat yang miris. Kalau sesuatu dikecam dan diperingatkan bahayanya, biasanya Islam memberikan penghormatan yang tinggi untuk yang sebaliknya. Kalau lajang sangat tidak disukai, kita mendapati bahwa menikah mendekatkan manusia kepada syurgaNya. Ketika dikabarkan kepada kita bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah bujangan, kita juga banyak mendapati di dalam hadits tentang kemuliaan akhirat dan bahkan keindahan hidup di dunia yang insya Allah akan didapatkan melalui pernikahan. Seseorang yang menikah, berarti menyelamatkan setengah dari agama. Dari Abu Hurairoh ra. Rasulullah Saw bersabda, “Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah Swt, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seseorang yang menikah untuk menjaga kehomatannya,” (HR. Thabrani). Tentang
Kegiatan Seminar
ini dibuka oleh Dekan FMIPA Universitas Riau dan menghadirkan beberapa
Nara Sumber, yakni :
Dilaksanakan
di Bapelkes Pekanbaru, Jl. HR Subrantas, Pekanbaru, hari Sabtu, 26 Mei
2001, pukul 08.30 wib - 15.30 wib. Seminar
Nasional ini dalam pelaksanaannya, diiringi dengan beberapa kegiatan,
antara lain :
|
||||||||||||||||||
|
Copyright @ 2003. All Right Reserved. | Home | Contact Us | |
|||||||||||||||||||